Tampilkan postingan dengan label pernikahan adat bali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pernikahan adat bali. Tampilkan semua postingan
24 September 2009
Kado Untuk Ultah Pernikahan Anda
Bagi teman-teman yang bingung kado apa yang akan diberikan untuk suami/istri Anda dalam rangka merayakan HUT pernikahan atau mungkin untuk HUT pernikahan ortu, teman atau bos Anda di kantor mungkin daftar kado dibawah ini bisa sedikit membantu Anda. Kalo bingung dengan istilah-istilahnya silahkan googling aja. Jenis kado dibedakan berdasarkan umur perkawinan. Selamat memiih.
1 Tahun
Tradisional: Kertas (kartu ucapan, buku, novel, uang kertas, dsb)
Modern: Jam
Bunga: Pansy
Batu: Mutiara Air Tawar
2 Tahun
Tradisional: Jerami, Katun
Modern: Keramik Cina
Bunga: Cosmos
Batu: Rose Quartz, Garnet
3 Tahun
Tradisional: Kulit
Modern: Kristal, Gelas
Bunga: Fuhsia
Batu: Kristal
4 Tahun
Tradisional: Buku, Buah, Bunga
Modern: Peralatan Rumah Tangga Elektronik
Bunga: Geranium
Batu: Topaz, Amethyst
5 Tahun
Tradisional: Ukiran Kayu
Modern: Kerajinan Perak
Bunga: Daisy
Batu: Turquoise
6 Tahun
Tradisional: Gula, Kerajinan Besi
Modern: Kerajinan Kayu
Bunga: Calla Lilies
Batu: Garnet, Amethyst
7 Tahun
Tradisional: Kain Wol, Kerajinan Tembaga
Modern: Desk Set
Bunga: Jack-In-The-Pulpit
Batu: Onyx, Lapis Lazuli
8 Tahun
Tradisional: Tembikar/Pecah Belah, Kerajinan Perunggu
Modern: Sprei Lenan, Ikat-ikatan
Bunga: Clematis
Batu: Tourmaline, Aventurine
9 Tahun
Tradisional: Tembikar
Modern: Kulit
Bunga: Poppies
Batu: Tiger Eye, Lapis Lazuli
10 Tahun
Tradisional: Kerajinan dari Timah, Aluminium
Modern: Perhiasan Berlian
Bunga: Daffodils
Batu: Onyx Hitam
11 Tahun
Tradisional: Kerajinan besi
Modern: Perhiasan fashionable
Bunga: Morning Glory
Batu: Turquise dan Hematite
12 Tahun
Tradisional: Sutera dan Linen
Modern: Batuan berwarna dan Mutiara
Bunga: Peonies
Batu: Agate
13 Tahun
Tradisional: Renda
Modern: Tekstil
Bunga: Hollyhoch
Batu: Moonstone, Malachite, Citrine
14 Tahun
Tradisional: Gading
Modern: Perhiasan Emas
Bunga: Dahlia
Batu: Moss Agate
15 Tahun
Tradisional: Kristal
Modern: Jam
Bunga: Mawar
Batu: ---
16 Tahun
Tradisional: ---
Modern: Kerajinan Perak
Bunga: ---
Batu: Peridot, Aquamarine
17 Tahun
Tradisional: ---
Modern: Furnitur
Bunga: ---
Batu: Citrine, Amethyst
18 Tahun
Tradisional: ---
Modern: Porselen
Bunga: ---
Batu: Opal
19 Tahun
Tradisional: ---
Modern: Kerajinan Perunggu
Bunga: ---
Batu: Topaz, Aquamarine
20 Tahun
Tradisional: Keramik Cina
Modern: Platinum, Gerabah Cina
Bunga: Day Lily
Batu: ---
21 Tahun
Tradisional: ---
Modern: Kerajinan Nikel, Kuningan
Bunga: ---
Batu: Iolite
22 Tahun
Tradisional: ---
Modern: Kerajinan Tembaga
Bunga: ---
Batu: Spinel
23 Tahun
Tradisional: ---
Modern: Piringan perak
Bunga: ---
Batu: Imperial Topaz
24 Tahun
Tradisional: ---
Modern: Peralatan musik
Bunga: ---
Batu: Tanzanite
25 Tahun
Tradisional: Perak
Modern: Perak
Bunga: Iris
Batu: Sterling Silver
26 Tahun
Tradisional: ---
Modern: Gambar / Foto Original
Bunga: ---
Batu: ---
27 Tahun
Tradisional: ---
Modern: Seni Pahatan
Bunga: ---
Batu: ---
28 Tahun
Tradisional: ---
Modern: Anggrek
Bunga: ---
Batu: ---
29 Tahun
Tradisional: ---
Modern: Furniture
Bunga: ---
Batu: ---
30 Tahun
Tradisional: Mutiara
Modern: Perhiasan Berlian
Bunga: Sweet pea
Batu: ---
31 Tahun
Tradisional: ---
Modern: Hal-hal yang terkait dengan waktu
Bunga: ---
Batu: ---
32 Tahun
Tradisional: ---
Modern: Alat-alat pengangkutan (mis. koper)
Bunga: ---
Batu: ---
33 Tahun
Tradisional: ---
Modern: Amethyst
Bunga: ---
Batu: ---
34 Tahun
Tradisional: ---
Modern: Opal
Bunga: ---
Batu: ---
35 Tahun
Tradisional: bebatuan koral
Modern: Jade
Bunga: ---
Batu: ---
36 Tahun
Tradisional: ---
Modern: Gerabah Cina
Bunga: ---
Batu: ---
37 Tahun
Tradisional: ---
Modern: Batu pualam
Bunga: ---
Batu: ---
38 Tahun
Tradisional: ---
Modern: Beryl
Bunga: ---
Batu: ---
39 Tahun
Tradisional: ---
Modern: Renda
Bunga: ---
Batu: ---
40 Tahun
Tradisional: Batu Delima
Modern: Batu Delima
Bunga: Nasturtium
Batu: Batu Delima
41 Tahun
Tradisional: ---
Modern: Tanah
Bunga: ---
Batu: ---
42 Tahun
Tradisional: ---
Modern: Real Estate
Bunga: ---
Batu: ---
43 Tahun
Tradisional: ---
Modern: Travel, Perjalanan
Bunga: ---
Batu: ---
44 Tahun
Tradisional: ---
Modern: Bahan Makanan
Bunga: ---
Batu: ---
45 Tahun
Tradisional: Sapphire, batu nilam/nilakandi
Modern: Sapphine, batu nilam/nilakandi
Bunga: ---
Batu: Aexandrite
46 Tahun
Tradisional: ---
Modern: Puisi orisinil
Bunga: ---
Batu: ---
47 Tahun
Tradisional: ---
Modern: Buku
Bunga: ---
Batu: ---
48 Tahun
Tradisional: ---
Modern: Peralatan Optis
Bunga: ---
Batu: ---
49 Tahun
Tradisional: ---
Modern: Barang mewah
Bunga: ---
Batu: ---
50 Tahun
Tradisional: Emas
Modern: Perhiasan Emas
Bunga: Violet
Batu: ---
55 Tahun
Tradisional: Emerald / Zamrud
Modern: Emerald / Zamrud
Bunga: ---
Batu: Alexandrite
60 Tahun
Tradisional: Berlian
Modern: Berlian
Bunga: ---
Batu: Berlian
65 Tahun
Tradisional: ---
Modern: ---
Bunga: ---
Batu: Star Sapphire
70 Tahun
Tradisional: Platinum, Berlian
Modern: Platinum, Berlian
Bunga: ---
Batu: ---
75 Tahun
Tradisional: Berlian
Modern: Berlian
Bunga: ---
Batu: ---
80 Tahun
Tradisional: Mutiara dan Berlian
Modern: Mutiara dan Berlian
Bunga: ---
Batu: ---
sumber : http://www.anniversaryideas.co.uk/default.asp
21 Januari 2009
Pernikahan Adat Bali
Umat Hindu mempunyai tujuan hidup yang disebut Catur Purusa Artha yaitu Dharma, Artha, Kama dan Moksa. Hal ini tidak bisa diwujudkan sekaligus tetapi secara bertahap.
Setelah upacara mekala-kalaan selesai dilanjutkan dengan cara membersihkan diri (mandi) hal itu disebut dengan "angelus wimoha" yang berarti melaksanakan perubahan nyomia kekuatan asuri sampad menjadi daiwi sampad atau nyomia bhuta kala Nareswari agar menjadi Sang Hyang Semara Jaya dan Sang Hyang Semara Ratih agar harapan dari perkawinan ini bisa lahir anak yang suputra.
Setelah mandi pengantin dihias busana agung karena akan natab di bale yang berarti bersyukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Selanjutnya pada hari baik yang selanjutnya akan dilaksanakan upacara Widhi Widana (aturan serta bersyukur kepada Hyang Widhi). Terakhir diadakan upacara pepamitan ke rumah mempelai wanita.
sumber : www.undanganku.info
| Tahapan untuk mewujudkan empat tujuan hidup itu disebut dengan Catur Asrama. Pada tahap Brahmacari asrama tujuan hidup diprioritaskan untuk mendapatkan Dharma. Grhasta Asrama memprioritaskan mewujudkan artha dan kama. Sedangkan pada Wanaprasta Asrama dan Sanyasa Asrama tujuan hidup diprioritaskan untuk mencapai moksa. Perkawinan atau wiwaha adalah suatu upaya untuk mewujudkan tujuan hidup Grhasta Asrama. Tugas pokok dari Grhasta Asrama menurut lontar Agastya Parwa adalah mewujudkan suatu kehidupan yang disebut "Yatha sakti Kayika Dharma" yang artinya dengan kemampuan sendiri melaksanakan Dharma. Jadi seorang Grhasta harus benar-benar mampu mandiri mewujudkan Dharma dalam kehidupan ini. Kemandirian dan profesionalisme inilah yang harus benar-benar disiapkan oleh seorang Hindu yang ingin menempuh jenjang perkawinan. Dalam perkawinan ada dua tujuan hidup yang harus dapat diselesaikan dengan tuntas yaitu mewujudkan artha dan kama yang berdasarkan Dharma. Pada tahap persiapan, seseorang yang akan memasuki jenjang perkawinan amat membutuhkan bimbingan, khususnya agar dapat melakukannya dengan sukses atau memperkecil rintangan-rintangan yang mungkin timbul. Bimbingan tersebut akan amat baik kalau diberikan oleh seorang yang ahli dalam bidang agama Hindu, terutama mengenai tugas dan kewajiban seorang grhastha, untuk bisa mandiri di dalam mewujudkan tujuan hidup mendapatkan artha dan kama berdasarkan Dharma. |
| Menyucikan Diri |
| Perkawinan pada hakikatnya adalah suatu yadnya guna memberikan kesempatan kepada leluhur untuk menjelma kembali dalam rangka memperbaiki karmanya. Dalam kitab suci Sarasamuscaya sloka 2 disebutkan "Ri sakwehning sarwa bhuta, iking janma wang juga wenang gumaweakenikang subha asubha karma, kunang panentasakena ring subha karma juga ikang asubha karma pahalaning dadi wang" artinya: dari demikian banyaknya semua mahluk yang hidup, yang dilahirkan sebagai manusia itu saja yang dapat berbuat baik atau buruk. Adapun untuk peleburan perbuatan buruk ke dalam perbuatan yang baik, itu adalah manfaat jadi manusia. Berkait dengan sloka di tas, karma hanya dengan menjelma sebagai manusia, karma dapat diperbaiki menuju subha karma secara sempurna. Melahirkan anak melalui perkawinan dan memeliharanya dengan penuh kasih sayang sesungguhnya suatu yadnya kepada leluhur. Lebih-lebih lagi kalau anak itu dapat dipelihara dan dididik menjadi manusia suputra, akan merupakan suatu perbuatan melebihi seratus yadnya, demikian disebutkan dalam Slokantara. Perkawinan umat Hindu merupakan suatu yang suci dan sakral, oleh sebab itu pada jaman Weda, perkawinan ditentukan oleh seorang Resi, yang mampu melihat secara jelas, melebihi penglihatan rohani, pasangan yang akan dikawinkan. Dengan pandangan seorang Resi ahli atau Brahmana Sista, cocok atau tidak cocoknya suatu pasangan pengantin akan dapat dilihat dengan jelas. Pasangan yang tidak cocok (secara rohani) dianjurkan untuk membatalkan rencana perkawinannya, karena dapat dipastikan akan berakibat fatal bagi kedua mempelai bersangkutan. Setelah jaman Dharma Sastra, pasangan pengantin tidak lagi dipertemukan oleh Resi, namun oleh raja atau orang tua mempelai, dengan mempertimbangkan duniawi, seperti menjaga martabat keluarga, pertimbangan kekayaan, kecantikan, kegantengan dan lain-lain. Saat inilah mulai merosotnya nilai-nilai rohani sebagai dasar pertimbangan. Pada jaman modern dan era globalisasi seperti sekarang ini, peran orang tua barangkali sudah tidak begitu dominan dalam menentukan jodoh putra-putranya. Anak-anak muda sekarang ini lebih banyak menentukan jodohnya sendiri. Penentuan jodoh oleh diri sendiri itu amat tergantuang pada kadar kemampuan mereka yang melakukan perkawinan. Tapi nampaknya lebih banyak ditentukan oleh pertimbangan duniawi, seperti kecantikan fisik, derajat keluarga dan ukuran sosial ekonomi dan bukan derajat rohani. |
| Makna dan Lambang |
| UU Perkawinan no 1 th 1974, sahnya suatu perkawinan adalah sesuai hukum agama masing-masing. Jadi bagi umat Hindu, melalui proses upacara agama yang disebut "Mekala-kalaan" (natab banten), biasanya dipuput oleh seorang pinandita. Upacara ini dilaksanakan di halaman rumah (tengah natah) karena merupakan titik sentral kekuatan "Kala Bhucari" sebagai penguasa wilayah madyaning mandala perumahan. Makala-kalaan berasal dari kata "kala" yang berarti energi. Kala merupakan manifestasi kekuatan kama yang memiliki mutu keraksasaan (asuri sampad), sehingga dapat memberi pengaruh kepada pasangan pengantin yang biasa disebut dalam "sebel kandel". Dengan upacara mekala-kalaan sebagai sarana penetralisir (nyomia) kekuatan kala yang bersifat negatif agar menjadi kala hita atau untuk merubah menjadi mutu kedewataan (Daiwi Sampad). Jadi dengan mohon panugrahan dari Sang Hyang Kala Bhucari, nyomia Sang Hyang Kala Nareswari menjadi Sang Hyang Semara Jaya dan Sang Hyang Semara Ratih. Jadi makna upacara mekala-kalaan sebagai pengesahan perkawinan kedua mempelai melalui proses penyucian, sekaligus menyucikan benih yang dikandung kedua mempelai, berupa sukla (spermatozoa) dari pengantin laki dan wanita (ovum) dari pengantin wanita. |
| Peralatan Upacara Mekala-kalaan |
|
Setelah upacara mekala-kalaan selesai dilanjutkan dengan cara membersihkan diri (mandi) hal itu disebut dengan "angelus wimoha" yang berarti melaksanakan perubahan nyomia kekuatan asuri sampad menjadi daiwi sampad atau nyomia bhuta kala Nareswari agar menjadi Sang Hyang Semara Jaya dan Sang Hyang Semara Ratih agar harapan dari perkawinan ini bisa lahir anak yang suputra.
Setelah mandi pengantin dihias busana agung karena akan natab di bale yang berarti bersyukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Selanjutnya pada hari baik yang selanjutnya akan dilaksanakan upacara Widhi Widana (aturan serta bersyukur kepada Hyang Widhi). Terakhir diadakan upacara pepamitan ke rumah mempelai wanita.
sumber : www.undanganku.info
Langganan:
Postingan (Atom)
